Pengguna WhatsApp Tak Bisa Lagi Akses GIF

0
130
Pengguna WhatsApp Tak Bisa Lagi Akses GIF

Menyusul langkah Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir enam domain name system (DNS) Tenor penyedia konten GIF untuk WhatsApp, pengguna di Indonesia kini tak lagi dapat membukanya.

Dilansir dari Liputan6.com, seluruh operator tak dapat mengakses konten GIF tersebut di WhatsApp. Tak hanya di aplikasi, akses GIF juga tak dapat dilakukan melalui situs web aplikasi chatting milik Facebook tersebut.

Sekadar informasi, Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kemkominfo Semuel Abrijani Pangerapan sebelumnya telah meminta internet service provider (ISP) untuk memblokir enam DNS dari Tenor mulai 6 November 2017.

“Per tadi pagi kami sudah melakukan pemblokiran. Kami kirim pemberitahuan ke ISP untuk memblokir enam Domain Name System (DNS) Tenor,” ujar pria yang akrab disapa Semmy ini, kemarin.

Enam DNS Tenor yang telah diblokir antara lain adalah tenor.com, api.tenor.com, blog.tenor.com, qa.tenor.com, media.tenor.com, dan media1.tenor.com. Karenanya, kini seluruh pengguna WhatsApp di Indonesia sudah tak dapat lagi mengakses konten GIF.

Selain dengan Tenor, WhatsApp sebenarnya juga bekerja sama dengan GIPHY. Namun menurut Semmy, pihaknya telah berkoordinasi dengan GIPHY.

“Mereka (GIPHY), akan membantu pemerintah Indonesia. GIPHY pernah diblokir, tapi sekarang mereka siap membantu mengikuti peraturan undang-undang yang ada,” katanya.

Kemkominfo juga menuturkan pihaknya telah mengirimkan surat pemberitahuan pada penyedia aplikasi agar berkoordinasi dengan Tenor terkait konten pornografi ini. Pihaknya meminta WhatsApp agar tak lepas tangan terkait konten ini.

Kata Kurator GIF di WhatsApp Soal Pemblokiran

Penyedia konten GIF di WhatsApp, Tenor, sedang berusaha menyelesaikan isu konten yang diprotes oleh Pemerintah Indonesia. Konten Tenor dipermasalahkan karena banyak yang berbau pornografi.

“Kami akan mengatasi berbagai isu konten yang diajukan oleh Pemerintah Indonesia dalam waktu 48 jam ke depan,” tutur juru bicara Tenor, Jennifer Kutz, pada Senin (6/11/2017).

Ia menjelaskan, Tenor secara teratur bekerja dengan berbagai entitas lokal untuk memastikan kontennya sesuai dengan adat istiadat, budaya dan regulasi setempat.

Sayangnya, Kutz menolak menyebutkan wilayah yang ada dalam pembatasan konten. Ia hanya memastikan para integrator Tenor akan memblokir hasil gambar yang berpotensi tidak pantas atau mengatur daftar istilah pencariannya.

Kutz juga menegaskan pihak Tenor akan bertanggung jawab atas berbagai masalah terkait kontennya, termasuk di WhatsApp. “Dalam kasus WhatsApp, kami akan bertanggung jawab,” tulis Kutz melalui email, seperti dikutip dari Reuters.