English Arabic Bulgarian Chinese (Simplified) Chinese (Traditional) Czech Dutch French German Greek Hindi Italian Japanese Korean Norwegian Polish Portuguese Romanian Russian Spanish Swedish Catalan Filipino Hebrew Indonesian Ukrainian Vietnamese Thai Turkish
 
 
Home arrow Software arrow Workshop arrow Manajemen Hard Disk di Linux - Partisi Hard Disk dengan Parted  
Manajemen Hard Disk di Linux - Partisi Hard Disk dengan Parted Print E-mail
Thursday, 27 April 2006
 

Image
Partisi di-mout ke suatu direktori: Setelah proses mount, Anda dapat mengakses (membaca dan menulis) data atau file yang ada di partisi hard disk tersebut dalam suatu direktori.
 

  • Tipe partisi yang dibuat adalah ext2. Parted mendukung pembuatan partisi bertipe ext2, FAT32, FAT16, Linux swap, dan ReiserFS. Khusus untuk membuat partisi bertipe ReiserFS, Anda memerlukan paket tambahan progsreiserfs.
  • Pada dua bagian terakhir menunjukkan batas awal dan akhir (dalam megabyte) dari partisi. Di sini Anda tidak dapat langsung memasukkan ukuran partisi. Sektor awal (start sector) partisi baru didapat dari end sector partisi ke-7. Dengan demikian, nilai end sector partisi ke-7 akan menjadi start sector dari partisi baru ini (43012. 265). Untuk end sector partisi baru, tambahkan dengan nilai 400 (ukuran yang hendak Anda buat) yang hasilnya adalah angka 43412.265. Untuk keluar dari mode interaktif parted, cukup ketik perintah berikut ini quit (bisa disingkat q):

         

quit

 

Perintah tersebut juga dapat disingkat seperti berikut ini.

(parted) q


Untuk dapat menggunakan partisi baru, Anda harus memberi nomor padanya. Dalam hal ini Linux berbeda dibandingkan Windows karena tidak memakai konsep penamaan disk drive seperti ‘C:’, ‘D:’, ‘E:’, dan seterusnya. Media disk (hard disk, floppy disk, USB flash drive, dan lain-lain) diakses lewat perantaraan mount point. Mount point sendiri adalah direktori-direktori di bawah root directory ‘/’, misalnya ‘/home’, ‘/var/’, dan ‘/usr/local/’.

Partisi yang baru dibuat tadi akan diberi nomor dengan minor=8. Dengan demikian, untuk menggunakan partisi ini, ketik perintah seperti di bawah ini.
# mount /dev/hdd8 /mnt/mydrive


Lewat mount point ‘/mnt/mydrive’, Anda dapat membuat file baru, membuat subdirektori, menghapus sebuah file, dan lain-lain seperti biasa. Direktori ‘mydrive’ tentu harus Anda buat sebelumnya.

Apabila partisi tersebut selalu Anda pakai setiap kali menjalankan PC, Anda dapat memerintahkan Linux untuk me-mount-nya secara otomatis. Caranya adalah dengan memasukkan mount point-nya pada file ‘/etc/fstab’. Untuk itu, buka file tersebut dengan sembarang editor teks (misalnya vi atau Kwrite), lalu tambahkan perintah seperti berikut ini.
/dev/hdb1 /mnt/mydrive ext2 defaults 0 2

Penjelasan mengenai 3 parameter terakhir (kolom 4, 5, dan 6) adalah sebagai berikut.

 

  • defaults, adalah definisi parameter yang di-passing saat dilakukan mount. Dengan defaults, Anda dapat menggunakan parameter-parameter standar seperti partisi di-mount dengan mode read write, mengizinkan eksekusi file binary, hak mount hanya untuk root, dan seterusnya. Parameter ‘defaults’ adalah pilihan terbaik jika Anda tidak ingin direpotkan dengan berbagai definisi parameter mount.

 

Image
Lebih mudah dan cepat: Dengan tool QTParted yang berbasis grafis ini, Anda dapat memanipulasi berbagai partisi pada hard disk dengan cepat dan mudah.

  • Kolom kelima berisi angka 0. Angka ini mengindikasikan apakah partisi yang di-mount akan disertakan pada proses backup yang dilakukan oleh tool dump. Angka 0 berarti tidak diikutkan dan angka 1 berarti ikut dalam proses backup. Mengenai utility dump dan konfigurasinya tidak akan diterangkan disini, sehingga Anda dapat memilih 0. Perlu Anda ketahui, proses backup tidak harus selalu menggunakan tool dump. Cara lainnya yang dapat Anda pilih adalah dengan menggunakan tool tar secara manual.
  • Kolom keenam berisi flag untuk menandakan urutan pemeriksaan partisi oleh tool fsck pada saat sistem Linux di boot. Untuk partisi yang akan di mount sebagai root (/), isi dengan angka 1 untuk menunjukkan partisi tersebut berada pada urutan pertama untuk diperiksa. Untuk partisi non root isi dengan angka 2 yang berarti partisi tersebut diperiksa setelah partisi root. Pemeriksaan rutin dengan tool fsck memudahkan Anda untuk mendeteksi gejala awal kerusakan pada partisi. Apabila Anda tidak memerlukan pemeriksaan rutin fsck, isi dengan angka 0.